LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah - PPG Dalam Jabatan
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
Sahabat kita akan membahas yakni LK. 1.2 Eksplorasi penyebab masalah dalam pembelajaran. Dalam LK 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah ini akan disajikan contoh hasil Eksplorasi Penyebab Masalah pembelajaran yang merupakan salah satu fase yang penting di lakukan pendidik sebelum merancang pembelajaran inovatif. Identifikasi masalah pembelajaran bertujuan untuk mengetahui masalah yang ada, mengidentifikasi akar masalahnya, dan menganalisis solusi yang cocok untuk mengatasinya.
Contoh LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
Untuk mengisi LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah, kita dapat di lihat dalam tabel di bawah ini:|
No |
Masalah yang telah diiidentifikasi |
Hasil eksplorasi penyebab masalah |
Analisis eksplorasi penyebab masalah |
|
1 |
Motivasi
belajar siswa rendah |
Hasil
kajian literatur Sardiman
(2018), siswa terlihat memiliki motivasi belajar jika telah menunjukkan
beberapa sikap sebagai berikut: 1.
Semangat dan
rajin dalam menghadapi tugas. 2.
Gigih saat menghadapi kesulitan. 3.
Menunjukkan minat terhadap bermacam penyelesaian
persoalan. 4.
Tidak mudah
jenuh pada tugas yang sama. 5.
Mampu bertahan ada argumennya apabila sudah merasa
yakin pada suatu hal. Widodo (2020) motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh: 1. Faktor internal, terdiri dari: fisik, psikologis 2. Faktor eksternal, terdiri dari: sosial, keluarga, lingkungan
pembelajaran, guru, sumber belajar, fasilitas belajar. Khafid (2021) motivasi belajar dipengaruhi oleh: 1.
Minat siswa 2.
Manfaat materi bagi
kehidupan siswa 3.
Kreatifitas guru dalam
menyampaikan pembelajaran 4.
Strategi/teknik/metode
pembelajaran guru 5.
Perhatian orang tua 6.
Sarana dan prasarana
pembelajaran 7.
Suasana pembelajaran Menurut
Permatasari (2018:87): Faktor penyebab rendahnya motivasi belajar peserta
didik secara internal adalah kurangnya perhatian peserta didik pada saat
mengikuti pelajaran, sedangkan secara eksternal disebabkan oleh lingkungan
sekolah seperti kurangnya penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi,
kurangnya media dan sumber belajar, kurangnya penegakan disiplin sekolah dan
lingkungan belajar yang kurang mendukung. Hasil
wawancara
: 1.
Siswa merasa jenuh belajar dikelas disebabkan metode
mengajar yang kurang menarik. 2.
Guru belum menggunakan metode mengajar yang tepat,
sehingga materi yang diajarkan kurang menarik bagi siswa. |
Setelah
dianalisis masalah motivasi belajar siswa rendah dikarenakan : 1.
Guru kurang mendapatkan pelatihan tentang cara
menerapkan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang
diberikan. 2.
Guru belum memiliki cukup waktu untuk menyiapkan
media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diberikan. 3.
Tuntutan kurikulum tidak sejalan dengan kondisi
lapangan, sehingga sering guru hanya mengejar materi selesai diajarkan meski
siswa belum mengerti dengan materi tersebut. 4.
Guru kurang kreatif dalam menata ruang kelas menjadi
ruangan yang menarik dan nyaman untuk digunakan. 5.
Kurangnya perhatian orang tua terhadap motivasi
orang tua. |
|
2 |
Kurangnya Hubungan komunikasi antar guru dan orang
tua siswa terkait pembelajaran |
Hasil
kajian literatur Pusitaningtyas
(2016): komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau ide oleh seseorang
kepada orang lain baik dengan bahasa atau melalui media tertentu yang
diantara keduanya sudah terdapat kesamaan makna sehingga saling memahami apa
yang sedang dikomunikasikan. Ketut
: Komunikasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk saling berbagi
informasi dari suatu tempat, orang, ataupun kelompok. Dengan tujuan
memberikan suatu informasi dan mengkomunikasian kepada audiens kita.
Komunikasi guru dan orang tua harus tetap bersinergi dalam mendudukan
pendidikan anak didiknya. Menurut
Nur Diana (dalam Mansur 2005: 92) pada level ini, anak-anak baru saja mulai
mengembangkan karakter mereka melalui perkembangan sikap, moral, sosial,
emosi dan karakteristik keagamaan. Pengembangan nilai-nilai ini dapat dicapai
dengan optimal jika adanya keharmonisan antara pendidikan anak-anak di rumah
dan di sekolah, yang tentu saja tidak dapat dipisahkan dari peran orang tua
dan peran guru Dewi
(2014): Pembelajaran merupakan suatu interaksi aktif antara guru yang
memberikan bahan pelajaran dengan siswa sebagai objeknya. Proses pembelajaran
merupakan kegiatan yang didalamnya terdapat sistem rancangan pembelajaran
hingga menimbulkan sebuah interaksi antara pemateri (guru) dengan penerima
materi (murid/siswa). Adapun beberapa rancangan proses kegiatan pembelajaran
yang harus diterapkan adalah dengan melakukan pendekatan pembelajaran,
strategi pembelajaran serta metode pembelajaran. Djamaluddin
(2019) : Pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain)
sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar,
peserta didik tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber
belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang
dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Hasil
wawancara: 1.
Orang
tua yang sibuk berkerja sehingga kurang memperhatikan kegiatan anak
disekolah. 2.
Orang tua hanya bertanya seputar kegiatan disekolah,
tidak mencari solusi bersama terkait anak yang bermasalah. |
Setelah
dianalisis masalah kurangnya hubungan komunikasi antar guru dan orang tua
siswa terkait pembelajaran dikarenakan : 1.
Orang
tua yang sibuk bekerja dan kurang memperhatikan pola belajar anaknya. 2.
Orang
tua yang sibuk berkerja tidak bisa hadir jika diundang rapat disekolah. 3.
Orang
tua kurang perhatian terhadap masalah anaknya disekolah terkait pembelajaran
disekolah. |
|
3 |
Hasil
kajian literatur Pembelajaran
inovatif merupakan proses pembelajaran yang dirancang, disusun, dan
dikondisikan untuk siswa agar mampu belajar. Siswa harus menempatkan diri
dengan baik, siswa tidak boleh hanya diam, tapi harus berusaha memotivasi
dirinya sendiri agar berkembang. Pembelajaran inovatif akan membangkitkan
semangat siswa untuk menjadi yang terbaik (Ismail, 2003; Burhanuddin, 2014;
dan Komara, 2014). Model
pembelajaran inovatif yang berikutnya adalah model modifikasi tingkah laku
dikembangkan berdasarkan teori behavioristik. Model ini memandang belajar
sebagai proses perubahan tingkah laku yang diakibatkan oleh hubungan
sebab-akibat atau stimulus dan respon antara individu dengan lingkungan.
Respon positif akan memberikan penguatan yang positif terhadap siswa
(Koesnandar, 2020:38). Pembelajaran
inovatif juga mengandung arti pembelajaran yang dikemas oleh guru lainnya
yang merupakan wujud gagasan atau teknik yang dipandang baru agar mampu
menfasilitasi peserta didik untuk memperoleh kemajuan dalam proses dan hasil
belajar.Tujuan utama dari inovasi pembelajaran adalah berusaha meningkatkan
kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan
prasarana temasuk struktur dan prosedur organisasi agar semua tujuan yang
telah direncanakan dapat dicapai secara optimal. Sedangkan manfaat
diadakannya inovasi diantaranya dapat memperbaiki keadaan sebelumnya ke arah
yang lebih baik, memberikan gambaran pada pihak lain tentang pelaksanaan
inovasi sehingga orang lain dapat mengujicobakan inovasi yang kita
laksanakan, mendorong untuk terus mengembangkan pengetahuan dan wawasan,
menumbuhkembangkan semangat dalam bekerja (Indria Hapsari, 2021:190). Hasil
wawancara: 1.
Guru belum mengikuti pelatihan tentang pembelajaran
inovatif. 2.
Guru metode yang digunakan monoton. |
Setelah
dianalisis masalah guru belum memahami pembelajaran inovatif
dikarenakan : 1. Guru belum mengikuti pelatihan
tentang pembelajaran inovatif. 2. Metode yang digunakan guru masih
monoton. 3. Guru belum memahami setiap
karakteristik dari model-model pembelajaran. 4. Kegiatan belajar mengajar masih
terpusat pada guru |
|
|
4 |
Hasil
kajian literatur Menurut
Kamus besar Bahasa Indonesia Poerwadarminta (2000: 707) kemampuan berarti
kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Menurut Robbins (dalam Susanto, 2011: 97)
kemampuan adalah suatu kapasitas berbagai tugas dalam suatu pekerjaan
tertentu. Soehardi (2003: 24), mengemukakan bahwa kemampuan adalah bakat yang
melekat pada seseorang untuk melakukan suatu kegiatan secara fisik atau
mental yang diperoleh sejak lahir, belajar, dan dari pengalaman. Berdasarkan
ketiga pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah suatu
kesanggupan atau kekuatan seseorang yang berasal dari dirinya sendiri maupun
yang diperoleh melalui belajar untuk menyelesaikan tugasnya. Madyawati
(2016: 23) mengemukakan bahwa perkembangan bahasa mencakup empat kemampuan
yaitu menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Perkembangan membaca sebagai
salah satu dasar yang harus dimiliki anak terdiri dari beberapa tahapan
sesuai dengan usia dan karakteristik perkembangannya. Menurut Keraf (1996:
24) membaca adalah suatu proses yang kompleks yang meliputi kegiatan yang
melibatkan fisik dan mental. Membaca juga diartikan sebagai proses pemberian
makna simbol visual.
Menurut
Yusuf (dalam Khafid, 2008:47) Lingkungan sekolah tempat peserta didik
memperoleh pendidikan kedua, juga dapat mempengaruhi keberhasilan peserta
didik dalam mencapai ketuntasan belajar. Sekolah merupakan lembaga pendidikan
formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan
pelatihan dalam rangka membantu peserta didik agar mampu mengembangkan
potensinya baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual,
emosional maupun sosial. Hasil
wawancara : 1.
Ketersediaan buku bacaan anak yang masih kurang di
sekolah. 2.
Fasilitas perpustakaan dan pojok báca belum
mendukung. 3.
Guru tidak memanfaatkan pojok baca yang ada
disekolah. |
Setelah
dianalisis masalah Anak belum bisa menyebutkan huruf dilingkungan sekolah
dikarenakan : 1.
Guru kurang membiasakan anak untuk menyebutkan
huruf-huruf dilingkungan sekolah. 2.
Guru tidak memanfaatkan pojok baca yang sudah
disediakan. 3.
Sarana mendukung literasi membaca masih kurang. |
|
|
5 |
Hasil
kajian literatur Menurut
Ariyana& Bestari (dalam Cahya Rohim:2019) HOTs atau keterampilan berfikir
tingkat tinggi adalah proses berfikir yang mendalam tentang pengolahan
informasi dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah yang bersifat kompleks
dan melibatkan keterampilan menganalsis, mengevaluasi dan mencipta. Untuk
mengukur keterampilan berfikir tingkat tinggi yang merupakan kemampuan yang
bukan hanya sekedar mengingat atau merujuk tanpa melakukan analisis dapat
digunakan instrument soal berupa soal berbasis HOTs (Ariyana & Bestary,
2018:11). Rahman
(2018): Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah usaha
memengaruhi emosi, intelektual, dan spiritual seseorang agar mau belajar
dengan kehendaknya sendiri. Melalui pembelajaran akan terjadi proses
pengembangan moral keagamaan, aktivitas, dan kreativitas peserta didik
melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Pembelajaran berbeda
dengan mengajar yang pada prinsipnya menggambarkan aktivitas guru, sedangkan
pembelajaran menggambarkan aktivitas peserta didik. Hasil
wawancara : 1.
Guru belum mengetahui HOTS dalam pembelajaran. 2.
Guru belum mendapatkan pelatihan tentang HOTS dalam
pembelajaran. |
Setelah
dianalisis masalah guru belum menggunakan HOTS dalam pembelajaran dikarenakan
: 1.
Guru belum mengetahui HOTS dalam pemebalajran. 2.
Guru belum mendapatkan pelatihan HOTS dalam
pembelajaran. 3.
Guru tidak membiasakan anak untuk bereksplorasi atau
aktif bertanya saat pembelajaran berlangsung. |
|
|
6 |
Hasil
kajian literatur Informasi
yaitu data yang didapat untuk tujuan tertentu, atau dengan kata lain data
yang diolah sehingga lebih berguna bagi yang memanfaatkannya. Sedangkan data
adalah kenyataan yang menggambarkan suatu keadaan yang nyata (Istiyarti, 2014:65) Menurut
Alo Liliweri (dalam Istiyarti, 2014:66) Komunikasi adalah suatu aktivitas
yang melayani hubungan antara pengirim dengan penerima pesan melampau ruang
dan waktu. Nikolopoulou dan
Gialamas (2016) mengelompokkan tantangan penggunaan TIK dalam proses
pembelajaran dari tiga aspek, yaitu kurangnya dukungan (lack of
support), kurangnya kepercayaan (lack of confidence), dan kurangnya
perlengkapan (lack of equipment). Proses
pembelajaran adalah suatu proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan
terjadinya proses belajar. Belajar dalam pengertian aktivitas dari peserta
didik dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan
perilaku yang bersifat relatif konstan. Sebagai institusi, sekolah mempunyai
mekanisme yang berbeda-beda dalam proses pembelanjaran anggaran di setiap
tahunnya. Banyak sekolah yang masih berpikir bahwa fasilitas yang terpenting
dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal jika diprogramkan adanya
infrastruktur TIK maka sebuah sekolah akan mempunyai arah yang jelas dalam
pengembangan TIK (Istiyarti, 2014:67) Hasil
wawancara: 1.
Guru belum memiliki leptop sehingga belum bisa
menguasai TIK. 2.
Sarana dan prasarana TIK disekolah belum ada. 3.
Guru belum ada keinginan untuk belajar TIK. |
Setelah
dianalisis masalah Guru belum menguasai TIK dalam pembelajaran dikarenakan : 1.
Guru belum memiliki leptop sehingga belum menguasai
dengan baik masalah TIK. 2.
Masih monoton menjadikan buku sebagai sumber
belajar. 3.
Contoh-contoh materi tema yang diajarkan hanya
disampaikan secara lisan. |

Comments
Post a Comment